Generasi Alfa adalah mereka yang disebut adik dari Generasi Z, lahir rentang tahun 2010-2025. Lebih lanjut uraian tentang sosiologi generasi ini, bisa membaca pemikiran Karl Mannheim (1893-1947) yaitu dalam esainya berjudul “The Problem of Generations” (1923) dan Strauss dan Howe dalam bukunya, Generations: The History of America’s Future, perubahan generasi terjadi dalam masyarakat sekitar setiap 20 tahun. Sebagian dari Anda mungkin sudah mengenal Generasi X, Generasi Y atau milenial, dan Generasi Z. Kini, ada istilah baru untuk menyebut generasi selanjutnya, yaitu Generasi Alfa. Generasi Alfa, sebuah ungkapan keprihatinan dari seorang sosiolog terhadap budaya bangsa ini.
Sekarang mari kita lihat, bagaimana wajah Generasi Alfa itu dalam perspektif sosial dan budaya. Karakter sosial mereka yang dibesarkan oleh media internet, aktif berkomunikasi melalui perangkat telepon pintar, ketergantungan sangat tinggi kepada jaringan sosial. Walaupun kadang disindir dan kerap juga disebut dengan “generasidigital”.
Lebih mengherankan lagi, mereka para “Generasi Alfa” ini bercita-cita memiliki “profesi” menjadi youtuber, gamer, bloger, vloger, dan selebgram. Deretan istilah “profesi” di atas terdengar “aneh” namun generasi ini akan disebut-sebut memiliki potensi lebih tinggi untuk sukses diindustri digital jika dibandingkan dengan generasi Z.
Miris sudah kemampuan berbahasa kita, para guru. Berusaha menyesuaikan istilah-istilah generasi Alfa, tapi lidah ini terasa kaku untuk mengucapkannya. Karena masih sering terngiang-ngiang, guru kami generasi old mengajar di depan kelas dengan bahasa kiasan, pantun, dan syair.
Alhasil, buku, koran dan televisi adalah barang-barang old yang hanya dipakai dan dinikmati oleh generasi old. Buku berganti e-book atau format pdf, koran berganti e-paper dan televisi berganti youtube (Riset kominfo mengenai perilaku anak dan remaja dalam penggunaan internet).
Pertanyaannya sekarang adalah mau diapakan anak Indonesia, “Generasi Alfa” itu? Bagaimana cara kita sebagai sebuah negara-bangsa mendidik, menyiapkan, dan memberikan peluang-peluang bagi masa depan “Generasi Alfa”, yang pada 2045 nanti yang akan memimpin negara ini? Merekalah sesungguhnya jawaban atas proyeksi bonus demografi Indonesia. Usia produktif yang jumlahnya mendominasi struktur penduduk nusantara. Itulah “Generasi Alfa”, bonus masa depan.
Pendidikan di era society 4.0 fokus pada tiga aspek utama, yaitu literasi data, literasi manusia, dan literasi teknologi. Metode pembelajaran yang digunakan pada masa ini mengkolaborasikan antara hybrid learning dengan problem based learning.
Kini paradigma tersebut segera digantikan oleh era society 5.0, di mana gagasan utamanya memanfaatkan teknologi big data yang dikumpulkan melalui Internet of Things (IoT) untuk diolah menjadi Artificial Intelligence (AI) dengan tujuan mempermudah aktivitas manusia. Di masa depan mungkin manusia akan terbiasa hidup dan berinteraksi langsung dengan robot buatan. Untuk menghadapi perubahan teknologi yang sangat cepat ini tak cukup rasanya apabila hanya dengan upaya-upaya digitalisasi pendidikan ataupun pemanfaatan AI yang membuat masyarakat kita sebagai target user produk negara lain.
Untuk mendukung perkembangan ini, beberapa kurikulum pendidikan di beberapa negara mulai menambahkan pelajaran pemrograman komputer pada sekolah dasar dan menengah. Kurikulum tersebut bertujuan untuk membantu pembentukkan siswa yang kreatif dan mampu menggunakan teknologi untuk menghasilkan solusi dalam memecahkan masalah.
Dibesarkan pada era di mana teknologi selalu berkembang secara konstan, Generasi Alfa dapat menjadi peran penting yang sangat berpengaruh terhadap berbagai industri untuk terus berevolusi dan menciptakan inovasi terbaru.
Rasulullah Saw. mengajarkan kepada kita bahwa sedikitnya ada dua hal yang memengaruhi kepribadian anak ketika menginjak usia dewasa yaitu, orang tua yang melahirkannya serta lingkungan yang membesarkannya. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.:
“setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang membuat dia (memiliki karakter) yahudi, atau (memiliki karakter) nasrani atau (memiliki karakter) majusi.” (HR. Muslim)
Maka sudah jelas sekali bahwa peran orang tua sangatlah penting dalam perkembangan anak. Maka perlu dipertanyakan, kenapa masih kecil sudah diberi mainan smartphone? Sudahkah kita orang tua melihat isi HP anak kita, melihat story browsernya, atau melihat isi sosial medianya? Sudahkah kita mengajarkan pendidikan karakter bagi anak sejak dini? Sudahkah memberi contoh kepada anak untuk menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup? Sudahkah kita memberi kasih sayang kepada anak sehingga dia tidak mencari kasih sayang dari orang lain?
Menjadi “teacher dan parent zaman now” adalah suatu tantangan zaman tersendiri. Perbedaan cara pandang antara orang tua dan guru yang dididik pola asuh lama. Mendidik generasi sekarang yang memiliki cara pandang kekinian sesuai dengan jiwa zamannya adalah suatu ikhtiar yang tak mudah. Demikian adagium klasik Arab, yang sering disampaikan oleh kyai-kyai tradisional di pesantren, “Al-Muhaafazhatu ‘alal qadiimis shaalih wal akhdzu bil jadiidil ashlah.” Sehingga para guru dan orang tua zaman i-Generation ini tidak merasa teralienasi, terasingkan hidup di tengah-tengah para “Generasi Alfa”, yang sesungguhnya sedang berlari cepat melesat bagaikan anak panah. “Mereka adalah anak dari kehidupan”, ucap sastrawan cum filsuf berdarah Libanon-Amerika, Kahlil Gibran (1883-1931) dalam puisinya yang bertajuk “Anakmu Bukan Anakmu.”
Lantas apa saja yang perlu dilakukan orang tua dalam mendidik buah hatinya saat ini? Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan dalam mendidik, antara lain:
- Jadi Model Terbaik dalam Bergaul
Orang tua harus membimbing dan juga mengajarkan anaknya tentang bagaimana cara untuk bergaul yang tepat, serta menjadi seseorang model yang baik bagi buah hatinya.
- Kenalkan Nilai-Nilai Agama
Ajarkan agama pada anak sejak dini, bagaimana mengaplikasikan nilai-nilainya sesuai dengan usianya. Misalnya, menyiapkan bahan bacaan tentang kisah-kisah teladan para nabi akan membantu mengambil nilai karakter dengan apa yang telah dibaca. Cara mengajarkan agama pada anak, juga tentu harus diimbangi dengan contoh nyata dari orang tuanya sendiri.
- Membentuk Kecerdasan Sosial
Anda harus selalu memerhatikan cara anak dalam belajar dan mengimitasi apa yang dia amati dari orang lain, kemudian sedikit demi sedikit membentuk kecerdasan sosialnya.
- Penggunaan Gadget Anak
Di dalam penggunaan gadget, termasuk bagi anak-anak, sebaiknya latih anak untuk dapat mengatur dirinya sendiri dan juga menerapkan disiplin diri, agar ia mampu mengatur kegunaan gadget di dalam kehidupannya dengan lebih sehat dan tidak berlebihan.
- Tentukan Target
Penting bagi para orang tua untuk mengajarkan anaknya sejak dini agar fokus terhadap tujuan utama hidupnya, menetapkan apa yang menjadi prioritas, menerapkan pengaturan waktu yang jelas dikesehariannya tapi tidak membuatnya tertekan, serta untuk tetap dapat membangun relasi yang nyata dengan orang lain.
Sekiranya orang tua sanggup mengatasi tantangan dari dalam dan luar tersebut, dengan cara memberikan perawatan yang baik dan halal, serta pendidikan yang berbasis Islam yang mengembangkan fitrah anak, maka akan lahir anak-anak yang bertauhid, berbuat baik, menguasai bidang keahlian yang dipilihnya, dan istiqamah di atas Din yang haq (Dinul Islam). Akhirnya kelak akan lahir anak-anak yang sanggup menghadapi tantangan materialisme, liberalisme, anti Agama, dan para pengumbar nafsu produk dan antek Yahudi dan Nasrani. Insya Allah, mereka akan mengungguli musuh-musuh Allah, musuh-musuh Islam, dan musuh-musuh kaum Muslimin hari ini dan ke depan.


