October 3, 2024

Berita SDIT

PERSIAPAN UJIAN MUNAQASYAH PESERTA DIDIK LEVEL 6 SDIT AL-FITYAN SCHOOL GOWA SEMANGAT DAN ANTUSIAS MENYETORKAN HAFALANNYA

Dari Utsman r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, dan Ibnu Majah) Sekolah unggulan SDIT Al-Fityan School Gowa baru saja melaksanakan kegiatan Pra Munaqasyah level 6 tahap 1 yang dilaksanakan di hari sabtu, 28 September 2024.  Kegiatan pra munaqasyah ini dilakukan dua kali di semester ganjil dan satu kali di semester genap, serta akan di lanjutkan pada kegiatan inti di bulan februari di semester genap yakni Munaqasyah yang akan dilaksanakan selama satu pekan. Kegiatan Pra Munaqasyah level 6 tahap 1 ini diikuti sebanyak 113 siswa level 6. Kegiatan ini dibuka dengan khidmat di masjid Al-Fityan School Gowa. Motivasi dan semangat dalam sambutan ketua panitia ustad Al Fisyahar, SQ. membuat peserta didik lebih antusias dalam mengikuti kegiatan ini. Kegiatan ini dilakukan dari pukul 08.00 sampai dengan 15.30. Rangkaian kegiatan Pra Munaqasyah dimulai dari Dzikir Al-Matsurah pagi, kemudian salat Duha. Sebelum proses menghafal dimulai, peserta didik mendapat beberapa nasehat dan motivasi menghafal Al-Qur’an dari mentor pendamping masing-masing kelompok, agar girah menghafal lebih meningkat, kemudian dilanjutkan dengan bimbingan talaqqi hafalan Bersama mentor pendamping serta pelaksanaan penyetoran hafalan peserta didik. Adapun target hapalan yang harus peserta didik setorkan ke mentor pendamping pada tahap 1 ini yaitu juz 30.Target tersebut merupakan pencapaian minimal dan peserta didik bisa menyetorkan bacaan melampaui target yang telah ditentukan. Dari segala rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan tujuan utamanya adalah menanamkan rasa cinta kepada Al-Qur’an di hati peserta didik sebab bagi siapa yang dihatinya ada Al-Qur’an maka Allah akan selalu menjaga sehingga menjadikan Al-Qur’an sebagai  sahabat dan surat cinta dari Ilahi Rabbi merupakan salah satu kunci keselamatan.

Tulisan Inspirasi SDIT

Tulisan Inspirasi! Sentuhan Kasih dalam Setiap Pelajaran…

Dalam setiap perjalanan hidup, ada sosok yang tak pernah dilupakan: seorang guru. Seorang guru bukan hanya mengajarkan pelajaran di kelas, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan yang menjadi bekal bagi murid-muridnya di masa depan. Ketulusan dan kasih sayang yang diberikan seorang guru dalam mendidik ibarat cahaya yang menuntun anak-anak menuju masa depan yang lebih baik. Di balik setiap kata, dalam setiap nasihat, terdapat sentuhan kasih yang begitu bermakna. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya engkau adalah seorang yang berakhlak mulia” (QS. Al-Qalam: 4). Ayat ini mengingatkan kita bahwa dalam mendidik, seorang guru perlu meneladani akhlak mulia, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Mengajar bukan sekadar mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keimanan, kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang. Kasih Sayang dalam Proses Belajar Setiap siswa datang dengan latar belakang yang berbeda. Ada yang cepat memahami pelajaran, ada yang membutuhkan lebih banyak perhatian. Namun, seorang guru yang mengajar dengan kasih tak pernah menyerah. Ia memahami bahwa setiap anak adalah amanah dari Allah, dan tugasnya adalah membimbing mereka dengan penuh kesabaran. Sebagaimana dalam hadits Rasulullah ﷺ, “Barangsiapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi” (HR. Bukhari). Kasih sayang adalah kunci dalam membuka hati anak-anak untuk belajar, karena dari kasih sayang itulah kepercayaan dan semangat mereka tumbuh. Ketika seorang guru mendekati muridnya dengan kelembutan, memberi ruang bagi setiap siswa untuk berkembang sesuai dengan potensi masing-masing, maka ilmu yang disampaikan pun lebih mudah diterima. Kasih sayang dalam mendidik menciptakan ikatan yang kuat antara guru dan siswa. Ikatan ini bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga tentang bagaimana seorang murid merasa dihargai, didengarkan, dan diberdayakan. Mendidik dengan Al-Qur’an sebagai Pedoman Sebagaimana Al-Qur’an mengajarkan akhlak mulia, seorang guru yang mengajarkan dengan kasih sayang menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai landasan dalam setiap pengajaran. Firman Allah, “Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Baqarah: 195), menjadi motivasi bagi para guru untuk selalu melakukan kebaikan, bahkan ketika menghadapi tantangan dalam mendidik siswa yang berbeda-beda. Guru yang mendidik dengan kasih paham bahwa penanaman nilai-nilai Qur’ani akan membentuk karakter anak-anak. Dalam setiap pelajaran, ia mengajarkan kejujuran, rasa syukur, menghargai waktu, dan menghormati sesama. Semua itu adalah bagian dari nilai-nilai Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an, yang harus ditanamkan dalam diri setiap anak sejak dini. Membentuk Generasi Berakhlak Mulia Dengan sentuhan kasih dalam setiap pelajaran, guru tidak hanya menciptakan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga membentuk anak-anak yang berakhlak mulia. Murid yang dididik dengan kasih sayang dan nilai-nilai Al-Qur’an akan tumbuh menjadi pribadi yang bijak, penyabar, dan bertanggung jawab. Mereka akan menjadi generasi yang mampu menghadapi tantangan hidup dengan iman yang kokoh. Guru adalah pejuang di garda terdepan dalam mencetak generasi masa depan. Sebagaimana Al-Qur’an adalah pedoman hidup bagi umat manusia, guru adalah pedoman hidup bagi murid-muridnya. Setiap pelajaran yang disampaikan dengan penuh kasih sayang, akan terpatri dalam jiwa anak-anak, membimbing mereka menjadi pribadi yang bermanfaat bagi umat, bangsa, dan agama. Penutup Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang angka-angka di atas kertas, tetapi tentang bagaimana seorang guru dapat menyalurkan kasih sayang dan kebaikan kepada setiap muridnya. Sebuah sentuhan kasih dalam mendidik akan meninggalkan jejak abadi dalam kehidupan setiap siswa, menginspirasi mereka untuk terus belajar, berbuat baik, dan menerapkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam setiap langkah kehidupan mereka. Seorang guru yang mengajar dengan cinta dan ketulusan akan selalu dikenang sebagai pelita yang menerangi jalan hidup anak-anaknya. Begitulah guru yang mendidik dengan hati, meninggalkan warisan yang tak ternilai, yaitu cinta untuk belajar dan hidup dengan penuh kebaikan, sebagaimana cahaya Al-Qur’an yang menerangi kehidupan manusia.

Scroll to Top