Tulisan Inspirasi SDIT

Tulisan Inspirasi SDIT

Tulisan Inspirasi! SIMFONI PERSAHABATAN

Sejak kecil Tifa dan Sasa adalah sahabat dekat yang selalu bermain bersama. Mereka bertemu pada satu sekolah yang sama, saat itu usia mereka masih berumur 5 tahun. Tifa menyapa Sasa dan mengajaknya bermain bersama. Sejak hari itu pun mereka tidak pernah terpisah. Mereka sering bermain bersama. Ayah Sasa adalah seorang pekerja yang mengharuskan dirinya untuk pergi dan menetap di luar Negara atau kota tertentu, saat ini keluarga Sasa tinggal di Makassar, namun ia tidak pernah tahu kapan mereka akan pindah karena kadang pekerjaan itu datang tiba-tiba, bisa seminggu sebelum keberangkatan. Saat ini Sasa tinggal sudah bertahun-tahun di Makassar, sebelumnya sasa tinggal di Jakarta.. Tifa adalah anak satu-satunya, orang tuanya sangat sibuk, jadi terkadang Tifa sering menginap di rumah Sasa. Tifa senang sekali saat iya bertemu Sasa kembali, karena Tifa kerap merasa kesepian karena sering sendiri di rumah, namun kehadiran Sasa di hidupnya sangat merubah Tifa menjadi anak yang lebih bahagia. Pada suatu hari saat Tifa dan Sasa sedang berada dalam kelas, mereka sedang membicarakan pelajaran sampai akhirnya Sasa mengganti topik. “Tif, kata ayahku, dia akan pindah kerja ke luar negeri.” Kata Natasya. “Yang bener? Kapan?” Tanya TIfa dengan ekspresi kaget dan kebingungan. “Aku tidak tahu kapan pastinya, namun tidak lama dari sebulan ini. Entahlah.”. Jawab Natasya dengan sedikit ragu. Tiba suatu hari yang mereka sangat hindari, yaitu dimana Sasa harus berpisah dengan Tifa. Sasa pergi tanpa sepengetahuan Tifa, tanpa perpisahan. Tifa mencari keberadaan Sasa di hari Senin itu. Mereka tidak mempunyai telepon genggam karena mereka masih TK, jadi mereka tidak mempunyai jalur komunikasi untuk memberi kabar. Hari Senin itu Tifa mencari Sasa namun dia tak ada di sekolah. Lalu, Tifa menanyakan kabar Sasa lewat wali kelas Sasa, ternyata Tifa dikabarkan bahwa Sasa telah pergi mengikuti ayahnya yang harus kerja di luar negeri, Tifa tidak tahu pasti Sasa pergi kemana wali kelas Sasa juga tidak tahu keberadaannya. Bertahun-tahun telah terlewati, Tifa pun sudah lupa tentang Sasa, ia sudah kehilangan kontak dan kabar dari Sasa. Tifa akhirnya lulus SMA, ia sangat bahagia untuk meneruskan kuliahnya di Amerika. Tifa bercerita kepada orang tuanya tentang keberangkatannya ke Amerika dalam kurun waktu yang cukup singkat. “Aku sangat gugup, bu. Aku tidak tahu nanti di sana aku akan bagaimana. Tadi malam aku bermimpi tentang Sasa, mimpinya kurang jelas namun seperti saat dulu kita pertama bertemu.” kata Tifa dengan bingung. “Mungkin itu suatu pertanda, ya ibu tidak tahu sih. Kamu jangan khawatir, ini kan yang kamu inginkan dari dulu.” Jelas ibu. “Ya sudahlah, aku tidak akan memikirkan lagi. Hanya sebuah mimpi kan.” kata Tifa Tifa akan berangkat meraih cita-citanya esok hari. Ia sangat gugup namun juga senang karena bisa meneruskan kuliahnya di universitas favoritnya. Pikiran Tifa pun campur aduk. Keesokannya Tifa di antar oleh beberapa sahabatnya dari SMA dan tentunya orang tuanya ke bandara. Tifa akan menetap di sana untuk beberapa tahun. Mereka semua bersedih karena akan berpisah dengan Tifa untuk waktu yang lama, apalagi Tifa adalah seorang yang sangat mudah dikangenin. Sesampainya di Amerika, Tifa naik taksi untuk pergi ke universitas tersebut. Sesampainya di sana, banyak sekali murid-murid lainnya, mereka sedang sibuk mengurus kedatangan mereka dan lain hal. Mereka juga mendapatkan kamar mereka masing-masing di asrama. Setelah Tifa selesai menguruskan urusan penting setelah kedatangan, Tifa mengambil kunci kamar asramanya untuk menaruh barang bawaannya. Dalam satu kamar terdapat dua orang, Tifa tidak tahu siapa yang akan menjadi teman sekamarnya. Di sana banyak sekali orang-orang dari berbagai macam negara, termasuk dari Indonesia, Tifa bukanlah satu-satunya orang Indonesia di sana. Tifa pun menemukan kamarnya, ia langsung membuka kamarnya dan merapikan barang-barangnya, memasukkan baju ke lemari. Setelah beberapa menit membersihkan barangnya, teman sekamarnya pun datang. “Hi, we`re going to be a roommate for 4 years, hope it`ll be fun! My name is Sasa.” Ujar teman sekamar itu. “Hah! Sasa! Aku Tifa ingat kah aku?, dulu kita sering bermain bersama saat masih kecil!” Teriak Tifa yang kaget bahwa ia ternyata sekamar dengan Sasa. “Yang benar saja! Tentu aku ingat dengan kamu. Apa kabar Tif? Aku tidak menyangka kita dipertemukan di satu universitas yang sama!” Tanya Sasa yang masih tidak habis pikir. “Aku baik-bik saja. Kita tidak pernah ada kabar lagi ya Sa, aku sangat kangen kamu. Mengapa waktu itu kamu tidak mengabarkan aku saat kamu ingin pergi? Aku nyariin kamu seharian!” Tanya Tifa yang ingin tahu tentang alasan Sasa. “Tif, aku ini tidak tahu kalau aku akan pergi pada hari itu dulu. Benar-benar mendadak, ayahku baru ngasih tahu hari itu! Tif. aku masih tidak percaya. Maafin aku ya Tif dulu udah ninggalin kamu. Sekarang aku janji bakal ada bareng kamu. Sekarang terus selama kuliah ini!” Kata Sasa “Tentu Sa, aku maafin. Yang penting sekarang kita di pertemukan lagi ya. Oh ya, kita kan habis ini bakal ada acara hari pertama, ayo kita siap-siap ya Sa”. Kata Tifa “Ok Tif!” Kata Sasa dengan singkat, Mereka pun akhirnya dipertemukan lagi, dalam situasi yang tidak di duga sama sekali oleh mereka. Mereka pun akan melanjutkan meraih mimpi mereka bersama-sama. Karena sahabat sejati takkan terpisahkan.

Tulisan Inspirasi SDIT

Tulisan Inspirasi! Sentuhan Kasih dalam Setiap Pelajaran…

Dalam setiap perjalanan hidup, ada sosok yang tak pernah dilupakan: seorang guru. Seorang guru bukan hanya mengajarkan pelajaran di kelas, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan yang menjadi bekal bagi murid-muridnya di masa depan. Ketulusan dan kasih sayang yang diberikan seorang guru dalam mendidik ibarat cahaya yang menuntun anak-anak menuju masa depan yang lebih baik. Di balik setiap kata, dalam setiap nasihat, terdapat sentuhan kasih yang begitu bermakna. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya engkau adalah seorang yang berakhlak mulia” (QS. Al-Qalam: 4). Ayat ini mengingatkan kita bahwa dalam mendidik, seorang guru perlu meneladani akhlak mulia, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Mengajar bukan sekadar mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keimanan, kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang. Kasih Sayang dalam Proses Belajar Setiap siswa datang dengan latar belakang yang berbeda. Ada yang cepat memahami pelajaran, ada yang membutuhkan lebih banyak perhatian. Namun, seorang guru yang mengajar dengan kasih tak pernah menyerah. Ia memahami bahwa setiap anak adalah amanah dari Allah, dan tugasnya adalah membimbing mereka dengan penuh kesabaran. Sebagaimana dalam hadits Rasulullah ﷺ, “Barangsiapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi” (HR. Bukhari). Kasih sayang adalah kunci dalam membuka hati anak-anak untuk belajar, karena dari kasih sayang itulah kepercayaan dan semangat mereka tumbuh. Ketika seorang guru mendekati muridnya dengan kelembutan, memberi ruang bagi setiap siswa untuk berkembang sesuai dengan potensi masing-masing, maka ilmu yang disampaikan pun lebih mudah diterima. Kasih sayang dalam mendidik menciptakan ikatan yang kuat antara guru dan siswa. Ikatan ini bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga tentang bagaimana seorang murid merasa dihargai, didengarkan, dan diberdayakan. Mendidik dengan Al-Qur’an sebagai Pedoman Sebagaimana Al-Qur’an mengajarkan akhlak mulia, seorang guru yang mengajarkan dengan kasih sayang menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai landasan dalam setiap pengajaran. Firman Allah, “Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Baqarah: 195), menjadi motivasi bagi para guru untuk selalu melakukan kebaikan, bahkan ketika menghadapi tantangan dalam mendidik siswa yang berbeda-beda. Guru yang mendidik dengan kasih paham bahwa penanaman nilai-nilai Qur’ani akan membentuk karakter anak-anak. Dalam setiap pelajaran, ia mengajarkan kejujuran, rasa syukur, menghargai waktu, dan menghormati sesama. Semua itu adalah bagian dari nilai-nilai Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an, yang harus ditanamkan dalam diri setiap anak sejak dini. Membentuk Generasi Berakhlak Mulia Dengan sentuhan kasih dalam setiap pelajaran, guru tidak hanya menciptakan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga membentuk anak-anak yang berakhlak mulia. Murid yang dididik dengan kasih sayang dan nilai-nilai Al-Qur’an akan tumbuh menjadi pribadi yang bijak, penyabar, dan bertanggung jawab. Mereka akan menjadi generasi yang mampu menghadapi tantangan hidup dengan iman yang kokoh. Guru adalah pejuang di garda terdepan dalam mencetak generasi masa depan. Sebagaimana Al-Qur’an adalah pedoman hidup bagi umat manusia, guru adalah pedoman hidup bagi murid-muridnya. Setiap pelajaran yang disampaikan dengan penuh kasih sayang, akan terpatri dalam jiwa anak-anak, membimbing mereka menjadi pribadi yang bermanfaat bagi umat, bangsa, dan agama. Penutup Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang angka-angka di atas kertas, tetapi tentang bagaimana seorang guru dapat menyalurkan kasih sayang dan kebaikan kepada setiap muridnya. Sebuah sentuhan kasih dalam mendidik akan meninggalkan jejak abadi dalam kehidupan setiap siswa, menginspirasi mereka untuk terus belajar, berbuat baik, dan menerapkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam setiap langkah kehidupan mereka. Seorang guru yang mengajar dengan cinta dan ketulusan akan selalu dikenang sebagai pelita yang menerangi jalan hidup anak-anaknya. Begitulah guru yang mendidik dengan hati, meninggalkan warisan yang tak ternilai, yaitu cinta untuk belajar dan hidup dengan penuh kebaikan, sebagaimana cahaya Al-Qur’an yang menerangi kehidupan manusia.

Tulisan Inspirasi SDIT

GENERASI ALFA DAN PENDIDIKAN ERA SOCIETY 5.0

Generasi Alfa adalah mereka yang disebut adik dari Generasi Z,  lahir rentang tahun 2010-2025. Lebih lanjut uraian tentang sosiologi generasi ini, bisa membaca pemikiran Karl Mannheim (1893-1947) yaitu dalam esainya berjudul “The Problem of Generations” (1923) dan Strauss dan Howe dalam bukunya, Generations: The History of America’s Future, perubahan generasi terjadi dalam masyarakat sekitar setiap 20 tahun. Sebagian dari Anda mungkin sudah mengenal Generasi X, Generasi Y atau milenial, dan Generasi Z. Kini, ada istilah baru untuk menyebut generasi selanjutnya, yaitu Generasi Alfa. Generasi Alfa, sebuah ungkapan keprihatinan dari seorang sosiolog terhadap budaya bangsa ini. Sekarang mari kita lihat, bagaimana wajah Generasi Alfa itu dalam perspektif sosial dan budaya. Karakter sosial mereka yang dibesarkan oleh media internet, aktif berkomunikasi melalui perangkat telepon pintar, ketergantungan sangat tinggi kepada jaringan sosial. Walaupun kadang disindir dan kerap juga disebut dengan “generasidigital”. Lebih mengherankan lagi, mereka para “Generasi Alfa” ini bercita-cita memiliki “profesi” menjadi youtuber, gamer, bloger, vloger, dan selebgram. Deretan istilah “profesi” di atas terdengar “aneh” namun generasi ini akan disebut-sebut memiliki potensi lebih tinggi untuk sukses diindustri digital jika dibandingkan dengan generasi Z. Miris sudah kemampuan berbahasa kita, para guru. Berusaha menyesuaikan istilah-istilah generasi Alfa, tapi lidah ini terasa kaku untuk mengucapkannya. Karena masih sering terngiang-ngiang, guru kami generasi  old  mengajar di depan kelas dengan bahasa kiasan, pantun, dan syair. Alhasil, buku, koran dan televisi adalah barang-barang old yang hanya dipakai dan dinikmati oleh generasi old. Buku berganti e-book  atau format  pdf, koran berganti e-paper dan televisi berganti youtube (Riset kominfo mengenai perilaku anak dan remaja dalam penggunaan internet). Pertanyaannya sekarang adalah mau diapakan anak Indonesia, “Generasi Alfa” itu? Bagaimana cara kita sebagai sebuah negara-bangsa mendidik, menyiapkan, dan memberikan peluang-peluang bagi masa depan “Generasi Alfa”, yang pada 2045 nanti yang akan memimpin negara ini? Merekalah sesungguhnya jawaban atas proyeksi bonus demografi Indonesia. Usia produktif yang jumlahnya mendominasi struktur penduduk nusantara. Itulah “Generasi Alfa”, bonus masa depan. Pendidikan di era society 4.0 fokus pada tiga aspek utama, yaitu literasi data, literasi manusia, dan literasi teknologi. Metode pembelajaran yang digunakan pada masa ini mengkolaborasikan antara hybrid learning dengan problem based learning.  Kini paradigma tersebut segera digantikan oleh era society 5.0, di mana gagasan utamanya memanfaatkan teknologi big data yang dikumpulkan melalui Internet of Things (IoT) untuk diolah menjadi Artificial Intelligence (AI) dengan tujuan mempermudah aktivitas manusia. Di masa depan mungkin manusia akan terbiasa hidup dan berinteraksi langsung dengan robot buatan. Untuk menghadapi perubahan teknologi yang sangat cepat ini tak cukup rasanya apabila hanya dengan upaya-upaya digitalisasi pendidikan ataupun pemanfaatan AI yang membuat masyarakat kita sebagai target user produk negara lain. Untuk mendukung perkembangan ini, beberapa kurikulum pendidikan di beberapa negara mulai menambahkan pelajaran pemrograman komputer pada sekolah dasar dan menengah. Kurikulum tersebut bertujuan untuk membantu pembentukkan siswa yang kreatif dan mampu menggunakan teknologi untuk menghasilkan solusi dalam memecahkan masalah.  Dibesarkan pada era di mana teknologi selalu berkembang secara konstan, Generasi Alfa dapat menjadi peran penting yang sangat berpengaruh terhadap berbagai industri untuk terus berevolusi dan menciptakan inovasi terbaru. Rasulullah Saw. mengajarkan kepada kita bahwa sedikitnya ada dua hal yang memengaruhi kepribadian anak ketika menginjak usia dewasa yaitu, orang tua yang melahirkannya serta lingkungan yang membesarkannya. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.:  “setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang membuat dia (memiliki karakter) yahudi, atau (memiliki karakter) nasrani atau (memiliki karakter) majusi.” (HR. Muslim) Maka sudah jelas sekali bahwa peran orang tua sangatlah penting dalam perkembangan anak. Maka perlu dipertanyakan, kenapa masih kecil sudah diberi mainan smartphone? Sudahkah kita orang tua melihat isi HP anak kita, melihat story browsernya, atau melihat isi sosial medianya? Sudahkah kita mengajarkan pendidikan karakter bagi anak sejak dini? Sudahkah memberi contoh kepada anak untuk menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup? Sudahkah kita memberi kasih sayang kepada anak sehingga dia tidak mencari kasih sayang dari orang lain? Menjadi “teacher dan parent zaman now” adalah suatu tantangan zaman tersendiri. Perbedaan cara pandang antara orang tua dan guru yang dididik pola asuh lama. Mendidik generasi sekarang yang memiliki cara pandang kekinian sesuai dengan jiwa zamannya adalah suatu ikhtiar yang tak mudah. Demikian adagium klasik Arab, yang sering disampaikan oleh kyai-kyai tradisional di pesantren, “Al-Muhaafazhatu ‘alal qadiimis shaalih wal akhdzu bil jadiidil ashlah.” Sehingga para guru dan orang tua zaman i-Generation  ini tidak merasa teralienasi, terasingkan hidup di tengah-tengah para “Generasi Alfa”, yang sesungguhnya sedang berlari cepat melesat bagaikan anak panah. “Mereka adalah anak dari kehidupan”, ucap sastrawan cum  filsuf berdarah Libanon-Amerika, Kahlil Gibran (1883-1931) dalam puisinya yang bertajuk “Anakmu Bukan Anakmu.” Lantas apa saja yang perlu dilakukan orang tua dalam mendidik buah hatinya saat ini? Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan dalam mendidik, antara lain: Orang tua harus membimbing dan juga mengajarkan anaknya tentang bagaimana cara untuk bergaul yang tepat, serta menjadi seseorang model yang baik bagi buah hatinya. Ajarkan agama pada anak sejak dini, bagaimana mengaplikasikan nilai-nilainya sesuai dengan usianya. Misalnya, menyiapkan bahan bacaan tentang kisah-kisah teladan para nabi akan membantu mengambil nilai karakter dengan apa yang telah dibaca. Cara mengajarkan agama pada anak, juga tentu harus diimbangi dengan contoh nyata dari orang tuanya sendiri. Anda harus selalu memerhatikan cara anak dalam belajar dan mengimitasi apa yang dia amati dari orang lain, kemudian sedikit demi sedikit membentuk kecerdasan sosialnya. Di dalam penggunaan gadget, termasuk bagi anak-anak, sebaiknya latih anak untuk dapat mengatur dirinya sendiri dan juga menerapkan disiplin diri, agar ia mampu mengatur kegunaan gadget di dalam kehidupannya dengan lebih sehat dan tidak berlebihan. Penting bagi para orang tua untuk mengajarkan anaknya sejak dini agar fokus terhadap tujuan utama hidupnya, menetapkan apa yang menjadi prioritas, menerapkan pengaturan waktu yang jelas dikesehariannya tapi tidak membuatnya tertekan, serta untuk tetap dapat membangun relasi yang nyata dengan orang lain. Sekiranya orang tua sanggup mengatasi tantangan dari dalam dan luar tersebut, dengan cara memberikan perawatan yang baik dan halal, serta pendidikan yang berbasis Islam yang mengembangkan fitrah anak, maka akan lahir anak-anak yang bertauhid, berbuat baik, menguasai bidang keahlian yang dipilihnya, dan istiqamah di atas Din yang haq (Dinul Islam). Akhirnya kelak akan lahir anak-anak yang sanggup menghadapi tantangan materialisme, liberalisme, anti Agama, dan para pengumbar nafsu produk dan antek Yahudi dan Nasrani. Insya Allah, mereka akan mengungguli musuh-musuh Allah, musuh-musuh Islam, dan musuh-musuh kaum Muslimin

Scroll to Top